Senin, 15 Februari 2010

Filsafat Spinoza

BAB II
PEMBAHASAN

A. BIOGRAFI SPINOZA
Spinoza dilahirkan pada tahun 1632 dan meninggal dunia pada tahun 1677. Nama aslinya adalah Baruch Spinoza. Setelah ia mengucilkan diri dari agama Yahudi, ia mengubah namanya menjadi Benedictus de Spinoza. Ia hidup dipinggiran kota Amsterdam (Solomon, 1981;71)
Baruch de Spinoza ( 1632 – 1677 ) adalah orang yahudi yang melarikan diri ke spanyol Amsterdam akibat terjadinya konflik keagamaan di sana. Semula dia di harapkan keluarganya menjadi Rabbi. Namun ia membuat marah komunitas Yahudi dan keluarganya karena pada usia 18 tahun Spinoza meragukan kitab suci sebagai wahyu Allah, mengecam posisi para imam Yahudi, serta mempertanyaakan kedudukan bangsa Yahudi sebagai “ umat pilihan Yahweh “ dan keterlibatan Allah secara pribadi dalam sejarah manusia. Akibatnya pada tahun 1656, ia di usir oleh keluarganya dan di kucilkan oleh komunitasnya dengan berbagai cacian dan kutukan yang antara lain berbunyi “ terkutuklah dia ( Spinoza ) pada siang dan malam hari, terkutuklah saat ia berbaring dan bangun, terkutuklah kedatangan dan kepergianya; semoga Allah tidak akan pernah sudi mengampuninya dan semoga murka-Nya turun atas orang ini ”. tidak lama setelah itu, Spinoza menderita penyakit TBC. Karena mengalami percobaan pembunuhan oleh seorang Yahudi fanatic, Spinoza meninggalkan Amsterdam dan pergi ke Den Haag ( 1670 ). Di kota tersebut ia hidup sederhana ( tidak merokok, jarang minum anggur, makan bubur encer, dan minum sedikit susu ). Dan undangan untuk mengajar di Universitas Heidelberg. Perguruan tinggi paling terkenal di Jerman saat itu, ditolaknya, agar ia terhindar dari publikasi dan tidak merasa terikat ( 1673 ). Spinoza mencari nafkah dengan bekerja sebagai pengasah lensa kacamata dan menjadi guru pribadi pada keluarga kaya. Kemudian ia, berkenalan dengan tokoh-tokoh partai politik Belanda saat itu, seperti Jan de Witt. Spinoza sempat di kunjungi Leibnez, beberapa waktu sebelum penyakit TBC yang di deritanya semakin kronis dan merenggut nyawanya pada usia 47 tahun ( 1677 ).

Baruch de Spinoza (24 November 1632 – 21 Februari 1677)
(Bahasa Ibrani: ברוך שפינוזה) adalah filsuf keturunan Yahudi dari keluarga yang bermigrasi ke Belanda. Pikiran-pikirannya berakar dalam tradisi Filsafat Yahudi yang dirintis sejak Philo yang menggabungkan agama Yahudi dengan Filsafat Yunani. Ciri pokok pemikiran Yahudi adalah usaha memadukan ilmu pengetahuan dan mistik.

B. PEMIKIRAN MODERN METAFISIKA SPINOZA
Persoalan pertama yang menggangu pemikiran Spinoza aialah sejak lama dan begitu kuatnya anutan orang kristen yang mempercayai imaterialisme, termasuk imortalitasnya jiwa dan adanya Tuhan. Ini membingungkan karena sudah sejak lama pula orang yunani beranggapan bahwa yang ada hamnyalah bahan materi (material stuuf), jadi mereka ini materialis. Sekarang yang menjadi tugas filosof untuk menjelaskan sosok-sosok immaterial seperti jiwa, Tuhan, dahn sebagainya itu. Dengankata lainbagaimana menyelesaikanpersoalan yang bertentangan antara imaterialisme dan meterialisme. Dalam metafisika, Descartes, misalnya ia memulai dengan mengakui adanya dua macam substansi yang dicipta ; fisi dan mental dan hanya ada satu yang tidak dicipta; tuhan. Leibniz pergi lebih jauh tatkala ia mengatakan bahwa yang ada hanyalah substansi imaterial. Posisi ini sekarang disebut idealisme. Didalam filsafat modern, materialisme dan idealisme sudah bertarung selama tiga abad (Solomon;72). Ajaran idealisme bertumpu pada agama, sementar meterialisme bertumpu pada sains.
Dengan adanya kemajuan sains, sudah umum adanya anggapan bahwa alam semesta ini adalah sebuah mesin raksasa, mengkin diciptakan oleh tuhan, tetapi ternyata dalam kasus-kasus tertentu mekanismenya itu dapat dikoordinasikan dan diperhitungkan. Newton misalnya menemukan hokum gerak yang kaulitas, sementara kepercayaan kepada kebijakan tuhan mengatur alam masih ada. Ini sungguh-sungguh merupakan suatu pertanyaan yang menjadi beban metafisikawan untuk menjawabnya.
Baik Spinoza maupun Leibniz tertarik untuk urun rembuk menjawab pertanyaan ini. Mereka menyadari persoalan-persoalan itu. Kedua orang ini, juga Descartes, adalah orang-orang yang bergama. Mereka menrima deduksi Descartes. Mereka juga mengikuti pentingnya konsep substansi. Akan tetapi aneh, Spinoza muncul menjadi seorang monis, Leibniz pluralis.
Beberapa pendapat Spinoza dalam metafisika, seperti dalam geometri, Spinoza memulai dengan meletakkan definisi. Beberapa contoh definisi-definisi ini yang digunakannya dalam membuat kesimpulan-kesimpilan dalam metafisika (Solomon;73)
Beberapa definisi tersebut adalah
I. Sesuatu yang sebabnya pada dirinya, saya maksudkan esensinya mengandung eksistensi, atau sesuatu yang hanya dipahami sebagi ada.
II. Sesuatu dikatakan terbatas bila ia dapat dibatasi oleh sesuatu yang lain; misalnya tubuh kita terbatas, yang membatasinya ialah besarnya tubuh kita itu.
III. Substansi ialah sesuatu yang ada dalam dirinya, dipahami melalui dirinya, konsep dapat dibentuk tentangnya bebas dari yang lain.
IV. Yang saya maksud dengan atribut (sifat) ialah apa yang dapat difahami sebagai melekat pada esensi substansi
V. Yang saya maksud denganmode ialah perubahan-perubahan pada substansi
VI. Tuhan yang saya maksud ialah yang tak tebatas secara absolute (mutlak)
VII. Sesuatu saya sebut bebas ialah sesuatu yang ada sendirian, bukan disebabkan oleh yang lain, dan tindakanya ditentukan olehnya sendiri
VIII. Yang saya maksud dengan kekekalan (eternity) ialah sifat pada eksistensi itu tadi.

Cobalah perhatikan, apa perbedaan definisi itu dari pada yang telah diajukan oleh aristoteles/ misalnya definisi substansi sebagai dasar stuff. Begitu juga mengenai atribut dan mode; atribut adalah karakteristik substansi, dan mode adalah perubahan-perubahan pada atribut. Sebab pada dirinya sendiri sama dengan penggerak pertama pada Aristoteles. Akan tetapi ada perbedaan yang amat prinsip : “pengerak” pada Spinoza identik dengan alam semesta, dan “Tuhan” pada Spinoza kira-kira sama dengan “memikirkan dirinya sendiri” pada aristoteles. Akan tetapi, dasar pijakpermulaan seluruh sistemnya (Spinoza), sebagaimana tergambar didalam definisi dan aksioma, sama dengan pengertian substansi pada Aristoteles seperti pada metafisika lama, Spinoza berpendapat bahwa apa saja yang benar-benar ada, maka adanya itu harus abadi (Definisi VIII)
Sama halnya dengan tatkala ia berbicara dalam astronomi, definisi selalu diikuti oleh aksioma. Aksioma adalah suatu kebenaran yang tidak memerlukan pembelaan. Dalam geometri, contoh aksioma ialah ; jarak terdekat antara dua titik ialah garis lurus.
Cobalah lihat aksioma-aksioma yang dipasangnya dalam metafisika sebagai berikut :
I. Segala sesuatu yang ada, dalam dirinya atau ada dalam sesuatu yang lain.
II. Sesuatu yang tidak dapat dipahami melalui sesuatu yang lain harus dipahami melalui dirinya sendiri.
III. Dari suatu sebab, tentu diikuti akibat; bila tidak ada sebab, tidak mungkin akan ada akibat yang mengikutinya.
IV. Pengetahuan kita tentang akibat ditentukan oleh pengetahuan kita tentang sebab.
V. Sesuatu yang tidak biasa dikenal umum tidak dapat dipahami; konsep tentang sesuatu tidak melibatkan konsep tentang yang lain.
VI. Idea yang benar harus sesuai dengan objeknya.
VII. Bila Sesuatu dapat dipahami sebagai tidak ada, maka esensinya tidak ada.

Melihat pada aksisoma diatas ada yang agak janggal. Itu disebabkan oleh aksioma ini menyangkut masalah metafisika. Aksioma-aksioma itu biasanya didasarkan atas definisi. Misalnya : Aksioma I berdasar akan Definisi I
Berdasarkan definisi dan aksioma itu Spinoza mulai membuktikan proporsisi-proporsisinya. Inilah beberapa proposisi yang disusunnya.
Prop. I. Substansi mesti mendahului modifikasinya.
Bukti Ini jelas dari Definisi III dan V
Prop. II Dua Substansi yang atributnya berbeda tidak akan mempunyai persamaan.
Bukti Juga jelas dari Definisi III karena sesuatu harus ada dalam dirinya sendiri dan dipahami melalui dirinya sendiri. Dengan kata lain, konsep tentang sesuatu tidak sama dengan konsep tentang sesuatu yang lain. Dan seterusnya.

Didalam literatur (Solomon: 76), contoh proporsisi itu cukup banyak. Masalah pokok sebenarnya sederhana: bila terdapat lebih dari satu substansi, maka diantara mereka tidak mungkin ada hubungan. Dengan deduksi ini berarti substansi itu hanya satu. Sekarang metafisika ini kelihatan rumit.
Akan tetapi, didalam kerumitan itu kita dapat menelusurinya dengan cara memegang pertanyaan ini: Berapa banyak sebenarnya substansi itu menurut Spinoza? Jawabnya: satu. Jadi, ia memonis, sama dengan tokoh-tokoh pra-Socrates. Descartes, moyangnya yang amat dekat, membagi substansi menjadi tiga, yaitu tubuh (bodies), jiwa dan Tuhan. Spinoza, berdasarkan cara ia menyimpulkan, menyatakan hanya ada satu substansi; bodies dan mind adalah atribut yang satu itu. bodies dan mind bukan substansi yang berdiri sendiri, jadi, tentang “Apa substansi itu?” ia tenetu menjawab, “satu substansi yang tak terbatas.” Tentang keseluruhan sifatnya kita tidak tahu. Kitahnya tahu bahwa sifatnya ialah ; bodies dan mind. Pertanyaan selajutnya, “bagaimana substansi itu berinteraksi bila mereka terpisah? Jelasnya, bagaimana mereka berinteraksi sehingga terbentuk badan seseorang, misalnya. Bagi Spinoza, karena substansi hanya satu, persoalan ini tidak muncul. Pertanyaan ini tidak muncul. Pertanyaan selajutnya, ” bagaimana kita membedakan atribut, bodies dan mind?” Jawaban Spinoza mengejutkan: “ Anda hanyalah satu bagian dari substansi kosmik (universe).” Jadi apa perbedaan body saya dari body Anda adalah satu persoalan yang tidak perlu dijawab. Jadi, hanya ada satu mind, tetapi bukan mind individual.
Akan tetapi, alam semesta adalah juga Tuhan (Solomon: 79). Disini kita bingung. Rupanya Spinoza itu kafir. Dengan proporsisi (Prop. X) Spinoza telah membuktikan bahwa Tuhan, substansi, dan penyebab dalam dirinya, ketiga-tiganya ini identik (Prop. X, lihat Solomon: 78). Dalam Prop. XIV ia menuliskan, “ Selain Tuhan, tidak ada substansi yang dapat dipahami. “ ini berarti bahwa Tuhan dan alam adalah satu dan sama. Posisi ini disebut panteisme (secara harfiah berarti semua adalah tuhan). Jadi, ia menentang baik Yahudi maupun Kristen.
Ya, Spinoza percaya kepada Tuhan, tetapi Tuhan yang dimaksudkanya adalah alam semesta ini. Tuhan Spinoza itu tidak berkemauan, tidak melakukan sesuatu, tak terbatas (ultimate). Tuhan itu tidak memperhatikan sesuatu, juga tidak memperdulikan manusia. Inilah penjelasan logis tentang tuhan yang bahkan Newton sampai terkejut oleh pernyataan itu. Ini tidak dapat diartikan bahwa Spinoza itu materialis. Ia hanya mengatakan, itulah yang dapat diketahui tentang tuhan. Akibatnya, tindakan manusia dan tuhan tidak bebas. Dimana-mana didalam alam semesta ini pasti sebagaimana ia mestinya; semuanya sudah ditentukan.

BAB III
PENUTUP

Berdasarkan uraian di atas tidak dapat di pungkiri bahwa Spinoza adalah seorang pemikir yang logis, konsisten, dan konsekwen. Dari satu prinsip utama (Tuhan-alam) ia secara deduktif mendasarkan semua hal lain. Spinoza mengajarkan bahwa manusia merupakan satu kesatuan utuh; satu substansi yang mempunyai dua aspek yakni “ jiwa “ dan “ tubuh “. Dalam hal ini, Spinoza termasuk pemikir yang memberikan sumbangan pengertian yang tepat tentang manusia sebagai (suatu) mahluk yang berdimensi jamak. Masalah utamanya justru teletak dalam dasar seluruh bangunan filsafatnya, yaitu menyamakan Tuhan dengan alam. Tuhan atau alam adalah satu-satunya substansi, sedangkan yang lain adalah perwujudan atau cara keberadaan (modi) dari Tuhan atau alam dari substansi yang satu dan sama. Dalam hal ini tidak heran bila Spinoza menolak individualitas, kebebasan, dan tanggung jawab manusia. Filsafat Spinoza pada umumnya dan ajaran tentang etika pada khususnya mengandung banyak kontradiksi. Kecermatan metodenya bukan merupakan etika yang serius dan menghukumi; sebaliknya ia menghasilkan dikta dari common sense yang adil dan halus.


DAFTAR PUSTAKA

Prof. Dr. Ahmad Tafsir. 2009. Filsafat umum Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra. (Bandung, Remaja Rosdakarya )
Ahmad Sidqi. wordpress.com/.../prinsip-ketuhanan-b-de-Spinoza-panteisme/

Saya ucapkan banyak terima kasih kepada
Bapak Mahmud Tsani.S.Pd.I. M.Pd.I. MM.
selaku dosen di ULUWIYAH MOJOLEGI atas segala bimbingannya terhadap makalah yang saya buat ini sampai selesai.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar